Romahurmuziy: Karena Agama Didirikan di Atas Budaya

519
Foto: Arsip pribadi sahabatromahurmuziy

Lagu lir-ilir gubahan Sunan Kalijaga, menurut Romahurmuziy  adalah gambaran mulai berseminya agama Islam kala itu. “Gambaran dari Sunan Kalijaga bahwa agama Islam mulai bersemi. Pohon yang waktu itu dimaksudkan adalah pohon Islam, mulai bersemi,” tutur Romahurmuziy dalam salah-satu ceramah agamanya dalam acara ‘Relawan Projo Bersalawat’.

Tak ijo royo-royo, tak sengguh pengantin anyar (Bagaikan warna hijau yang menyejukkan. Bagaikan sepasang pengantin baru). Ibarat ini pengantin baru, yang baru menikah bergandengan tangan dengan warga msyarakat Nusantara. Belum ada Indonesia pada saat itu. Maka secara pelan-pelan harus disemai,” lanjut Romahurmuziy.

Menurut Romahurmuziy, ketiga agama samawi yaitu Islam, Yahudi, dan Nasrani dekat dengan istilah gembala, di mana dalam lagu lir ilir, Sunan Kalijaga menggunakan istilah Jawa cah angon. Ini sebagaimana yang tersiar dalam ceramah Romahurmuziy. Ia mengatakan, “Cah angon-cah angon, penekno blimbing kuwi (Wahai gembala, wahai gembala,  panjatlah pohon belimbing itu). Di dalam Islam, begitupun di dalam agama-agama samawi sebelumnya. Agama Nasrani, agama Yahudi, umat ini disebut? Gembala.”

Kata gembala, Romahurmuziy menafsirkan sebagai orang yang berdakwah. Orang yang berdakwah itu menyerukan agar berusaha mencapai rukun Islam yang jumlahnya ada lima. Ya, sebagaimana pucuk buah belimbing.

“Maka gembala-gembala itu artinya adalah orang yang berdakwah mengelilingi gembala-gembala yang ada ini. Apa yang harus diajarkan? Penekno belimbing kuwi, panjatlah pohon blimbing itu. Belimbing itu pucuknya ada berapa? Lima. Ini adalah perumpaan Rukun Islam.”

Menunaikan rukun Islam diibaratkan sebagai pohon belimbing yang licin, yang artinya kita harus tetap memanjat, tetap harus berusaha melaksanakan rukun Islam yang berjumlah 5 itu meski hal itu tidak mudah.

“Rukun Islam harus dijalankan. Lunyu-lunyu penekno, meskipun sulit, kanggo mbasuh dodotiro untuk (mencuci pakaian yang kotor itu-red) untuk membasuh dosa-dosa yang sebelumnya. Ini Sunan Kalijaga. Maka Islam menjadi tegak. Dan menjadi agama mayoritas di Nusantara. Karena agama didirikan di atas budaya,” pungkas ceramah Romahurmuziy. [] (nda)