Hal-Hal yang Perlu Dihindari Saat Berpuasa (Bagian III)

1900
Foto dokumen istimewa

Dalam Bagian III, kami akan menuliskan bab keempat dari kitab “Maqashid al-Shaum” karya al-Imam Izzuddin bin Abd al-Salam al-Sulami. Al-Imam Izzuddin menyebut hal-hal yang perlu dihindari saat berpuasa.

Menyambung Puasa (Wishal)

وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ – رضي الله عنه – قَالَ: – نَهَى رَسُولُ اَللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – عَنِ اَلْوِصَالِ, فَقَالَ رَجُلٌ مِنَ اَلْمُسْلِمِينَ: فَإِنَّكَ يَا رَسُولَ اَللَّهِ تُوَاصِلُ? قَالَ: ” وَأَيُّكُمْ مِثْلِي? إِنِّي أَبِيتُ يُطْعِمُنِي رَبِّي وَيَسْقِينِي “. فَلَمَّا أَبَوْا أَنْ يَنْتَهُوا عَنِ اَلْوِصَالِ وَاصَلَ بِهِمْ يَوْمًا, ثُمَّ يَوْمًا, ثُمَّ رَأَوُا اَلْهِلَالَ, فَقَالَ: ” لَوْ تَأَخَّرَ اَلْهِلَالُ لَزِدْتُكُمْ ” كَالْمُنَكِّلِ لَهُمْ حِينَ أَبَوْا أَنْ يَنْتَهُوا – مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

Dari Abu Sa’id radhiyallahu ‘anhu, ia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Janganlah melakukan wishal. Jika salah seorang di antara kalian ingin melakukan wishal, maka lakukanlah hingga sahur (menjelang Shubuh).” Para sahabat berkata, “wahai Rasulullah, sesungguhnya engkau sendiri melakukan wishal.” Rasul –shallallahu ‘alaihi wa sallam– bersabda, “Aku tidak seperti kalian. Di malam hari, aku diberi makan dan diberi minum”.

Hadist ini diriwayatkan oleh Imam Bukhari (nomor 1965) dalam pembahasan puasa, “bab Hukuman Bagi Orang yang Memperbanyak Puasa Wishal”, dan Imam Muslim (nomor 1103) dalam pembahasan puasa, bab “Larangan Puasa Wishal dalam Berpuasa”.

Al-Imam Izzuddin menjelaskan bahwa larangan melakukan puasa wishal karena dapat melemahkan daya tahan tubuh dalam melakukan ibadah yang lain. Lebih lanjut lagi mengenai keterangan puasa wishal yang dilakukan nabi itu apabila dimaknai secara hakikat, maksudnya makanan dan minuman yang diberikan Allah adalah nyata, maka nabi tidak didisebut sedang melakukan puasa wishal. Sedangkan istilah makanan dan minuman itu dimaksudkan kenyamanan, dan kekuatan yang diberikan Allah kepada nabi dalam beribadah dan bertaqarrub, makna ini yang dianggap lebih kuat.

Bercumbu

كَانَ النَّبِي صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُقَبِّلُ وَيُبَاشِرُ وَهُوَ صَائِمٌ وَكَانَ اَمْلَكَكُمْ لِاِرْبِهِ

“Rasulullah s.a.w. mencium dan mencumbu (dengan istrinya), padahal Beliau sedang berpuasa. Namun Beliau adalah orang yang paling kuat menahan syahwatnya di antara kamu sekalian”

Hadist ini diriwayatkan Imam Bukhari (nomor 1927) dalam pembahasan puasa, bab “Mubasyarah bagi Orang yang Berpuasa, dan Imam Muslim (nomor 1106) dalam pembahasan puasa, bab “Penjelasan bahwa Bercumbu di saat Puasa Tidak Diharamkan Bagi Orang yang Syahwatnya Tidak Tergerak”. Al-Imam Izzuddin menyimpulkan bahwa ciuman yang tidak membuat syahwat dan merusak puasa, maka tidak apa-apa. Apabila ciuman tersebut bisa memalingkan seseorang untuk beribadah, merusak puasa, dan menarik seseorang untuk berhubungan intim, maka tidak diperbolehkan.

Berbekam

عَنِ ابۡنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُمَا قَالَ: احۡتَجَمَ النَّبِيُّ ﷺ وَهُوَ صَائِمٌ

dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhu, beliau mengatakan “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berbekam dalam keadaan berpuasa”, hadist ini dirirwayatkan oleh Imam Bukhari (nomor 1939) yang diceritakan dari Abdullah bin Abbas. Hadist ini juga menjelaskan bahwa puasanya orang yang berbekam adalah sah.

حَدَّثَنَا آدَمُ بۡنُ أَبِي إِيَاسٍ: حَدَّثَنَا شُعۡبَةُ قَالَ: سَمِعۡتُ ثَابِتًا الۡبُنَانِيَّ يَسۡأَلُ أَنَسَ بۡنَ مَالِكٍ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ: أَكُنۡتُمۡ تَكۡرَهُونَ الۡحِجَامَةَ لِلصَّائِمِ؟ قَالَ: لَا، إِلَّا مِنۡ أَجۡلِ الضَّعۡفِ. وَزَادَ شَبَابَةُ: حَدَّثَنَا شُعۡبَةُ: عَلَى عَهۡدِ النَّبِيِّ ﷺ.

Adam bin Abu Iyas telah menceritakan kepada kami: Syu’bah menceritakan kepada kami, beliau mengatakan: Aku mendengar Tsabit Al-Bunani bertanya kepada Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu: Apakah engkau membenci berbekam bagi orang yang berpuasa? Anas menjawab: Tidak, kecuali jika fisik lemah. Syababah menambahkan: Syu’bah menceritakan kepada kami: Pada masa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Hadist di atas diriwayatkan oleh Imam Bukhari (nomor 1940) dalam bab “Bekam dan Menyengaja Muntah Bagi Orang yang Berpuasa”. Lebih rinci lagi Imam Izzuddin menjelaskan bahwa orang yang apabila lemah kondisinya setelah berbekam maka dihukumi makruh, dan apabila sampai membuat batalnya puasa maka bekam diharamkan.

Berlebih-lebihan Isytinsyaq saat Berwudlu

وبالغ في الاستنشاق إلا أن تكون صائماً

“Seriuslah dalam memasukkan air dalam hidung (istinsyaq) kecuali dalam keadaan berpuasa”. Hadist ini menyampaikan anjuran nabi kepada laqith bin Sobroh untuk serius berisytinsyaq (memasukkan air dalam hidung) kecuali dalam kondisi berpuasa.

Hadist ini diriwayatkan oleh Imam Abu Daud (nomor 142) dalam bab “Istintsar (mengeluarkan air yang dihirup)”, An-Nasa’i dalam bab “Mubalagah dalam Isytinsyaq”, Syeikh Arnauth berpendapat bahwa hadist ini Shohih. Wa Allahu a’lamu