5 Nasihat Pernikahan Dari Gus Mus

2120
Foto: Pexels.com

Hai Gaesss. Kali ini kita masuk tema yang bikin baper kaum ‘mufrod’ alias kaum jomblo hehe. Iyap, tulisan ini akan mengudar seputar pernikahan. Dan… tak tanggung-tanggung, untuk kalian yang bersiap nikah atau kamu-kamu para jomblo yang sudah termotifasi untuk mengakhiri kejombloanmu, tulisan ini hadir.

Spesial diambil dari nasihat pernikahan oleh Kiai Mustofa Bisri atau yang akrab disapa Gus Mus. Seorang Kiai yang budayawan.

Nah, langsung saja yuk kita renungi bersama 5 nasihat pernikahan dari Gus Mus berikut ini:

  1. Menata Niat

Yang pertama adalah menata niat, begitu Gus Mus dawuh. Niat yang sudah ditata dengan baik oleh sepasang kekasih ini, akan menjelma jalan yang baik. Begini Gus Mus dawuh:

“Niat iku nomer siji. Niatmu mbok toto apik, insyaallah perjalanan hidup nanti baik. Saiki diniati cah loro niat kawin, ibadah, nderekno lampahe Kanjeng Rasul SAW. Niat supoyo kowe iso awet, apik, bukan hanya dengan bojo, tapi dengan siapa saja. Nomer siji, cateti.”

(Sekarang yang nomor satu. Tatalah niat baikmu, insyaallah perjalanan nanti baik. Sekarang kalian berdua niati menikah, ibadah, dan mengikuti sunnah Rasulullah SAW. Niati juga agar kalian berdua langgeng, baik, tidak hanya dengan pasangan, namun dengan siapa saja. Catat ya, itu yang pertama)

  1. Menyadari Kemanusiawian Pasangan

Nah, yang kedua ini menurut Gus Mus, kita perlu melihat pasangan kita sebagai fitrahnya, yaitu manusia. Manusia tidak selalu benar dan tidak selalu salah.

“Kowe tetepo dadi menungso, tegese bojomu dudu malaikat, opo meneh setan. Nek malaikat, ora tahu salah. Setan, ora tahu bener. Nek menungso, iso bener iso salah, iso ileng, iso lali. Dadi karena memandang pasangannya sebagai manusia kita bisa memaklumi kalau ada khilaf, ada kelupaannya.”

(Kamu harus tetap menjadi manusia, artinya, pasanganmu bukan malaikat apalagi setan. Kalau malaikat, tidak pernah salah. Setan, tidak pernah benar. Kala manusia, bisa benar- bisa salah, bisa sadar-bisa lupa. Jadi karena karena memandang pasangannya sebagai manusia kita bisa memaklumi kalau ada khilaf, ada kelupaannya.)

  1. Berpijak Pada Dalil yang Memuliakan Pasangan

Gus Mus itu memang seorang ulama yang puitis dan romantis. Hal yang puitis dan romantis itu pasti timbul dari jiwa yang penuh cinta dan kedamaian, alih-alih kemarahan dan penghinaan. Yuk, kita simak bareng dawuh Gus Mus di poin ini.

“Kowe kudu ngerti dalilmu karo dalile mbak Vira -menyebut nama pengantin perempuan– dewe-dewe, ojo mbok walek-walek. Dalile wong wedok bedo karo wong lanang. Arrijaalu qowwaamun ben dicekel mbak Vira, dalil sing ngormati wong wedok, cekelono kowe. Bangsane dalil ‘Maa Akromannisaa’a  illaa kariim, wa maa ahaanahunna illa la’in’, sing mulyakno wong wedok iku mung wong sing mulyo, wong sing hina itu adalah orang yang menghina perempuan. Hina. jadi mulyakno perempuan.”

(Kamu harus tahu bahwa dalilmu [berkata pada pengantin lelaki]  dan dalilnya mbak Vira [menyebut nama pengantin perempuan] itu ada sendiri-sendiri, jangan dibolak-balik. Dalilnya istri berbeda dengan dalilnya suami.  Arrijaalu qowwaamun, biar dipegang mbak Vira, dalil yang menghormati istri, kamu yang pegang. Misalnya dalil ‘Maa Akromannisaa’a illaa kariim, wa maa ahaanahunna illa la’in’. Hanya lelaki mulia yang memuliakan perempuan, dan hanya  lelaki hina yang menghinakan perempuan. Hina. Jadi, muliakanlah perempuan.)

  1. Tidak Berlebih-Lebihan Dalam Segala Hal

nah Gaeess, di sini kita akan belajar keistikomahan dan adil yang ternyata kuncinya adalah pada cara kita berfikir. Yuk simak!

“Nomer papat supoyo awakmu iso ajeg, apik karo bojo, ajeg sembayang, ajeg berjuang, ajeg ngaji segala macem, cekeli: ojo berlebih-lebihan dalam segala hal. Orang yang suka berlebih-lebihan dalam segala hal, ora iso adil sejak berfikir, ora bisa istiqomah.  Sarat adil, istiqomah, itu tidak berlebih-lebihan dalam segala hal.”

(Nomor empat, agar kamu bisa konsisten/istikomah (ketentraman hati), baik dengan pasangan, istikomah salat, istikomah berjuang, istikomah mengaji dan segala macam, harus berlandaskan: Jangan berlebih-lebihan dalam segala hal. Orang yang suka berlebih-lebihan dalam segala hal, tidak bisa adil sejak berfikir, tidak bisa istikomah.  Syaratnya adil [dan] istiqomah itu tidak berlebih-lebihan dalam segala hal.)

  1. Allah Tempat Kembali Segala Hal

Allah memang tempat muasal dan tempat kembali. Maka, bahtera apapun yang dihadapi dalam samudera rumah tangga, nasihat Gus Mus untuk memohon kepada Allah SWT.

“Nomer limo (nomer lima),  ono kesulitan apapun (ada kesulitan apapun), segede apapun (sebesar apapun), sekecil apapun, nyuwun karo Gusti Allah Ta’ala (memohonlah kepada Allah Ta’ala). Bagaimanapun kemampuanmu, hebatmu, jangan pernah lupa memohon kepada Allah Ta’ala.”

Kamu, udah siap nikah?
Katanya, syarat nikah itu cuma dua. Kalau bahasa Jawanya “mung kaleh”. Kaleh sinten?? uwuwuuwuwuw 😀