Tidak Semua Lantunan Berbahasa Arab Adalah Shalawat

1924
Anissa Sabyan pelantun lagu "Nawarti Ayyami" yang mendapat beberapa komentar. Foto dokumen istimewa.

Setelah bernostalgia dengan sholawat yang popular di era 90an. Ada hal lain mengenai dunia shalawat yang membuatku tergerak untuk ikut nyinyir rembug. Diawali dari Anissa Sabyan yang menyanyikan lagu “Nawarti Ayyami” yang popular di Indonesia lewat Helmy Abdel Baqi, penyanyi lagu popular di Mesir. Semuanya baik-baik saja sampai Negara Api menyerang, deretan komentar warga net berkelindan ikut menyemarakkan dunia persilatan lidah.

Saya akan tuliskan beberapa komentar yang bisa menjadi dasar tulisan selanjutnya

Ukhti Shinta “Astagfirullah menyebut nama Allah sambil ngajak jogettt anda sehat 😷 Mirissss BANGETTT …”. Syukrandi 91 “Padahal saya sangat suka sama selawat ini.  tapi pas gua lihat goyang2 gitu.  benci bnget gua”. Komentar Muhammad Lingga “gambus membawakan lagu lagu arabic bu, bukan shalawat”.

Pertama yang harus ditanggapi adalah komentar Muhammad Lingga bahwa gambus itu membawakan lagu-lagu berbahasa Arab, bukan shalawat. Menurut bahasa, gambus adalah alat musik petik yang berasal dari Arab. Diberi garis bawah ya, gambus adalah alat musik. Berarti pernyataan bahwa gambus itu untuk lagu-lagu berbahasa Arab dengan menegasikan shalawat adalah salah.

Gambus di Indonesia adalah bentuk paket antara gambus, rebana, dan tambahan alat musik elektrikal. Dan seandainya warga net di Indonesia mau bersabar mencari dan membaca referensi, hasilnya akan lebih terang, sementara keyboard begitu tergesa-gesa menuliskan komentar.

Dilihat dari nama kelompok musiknya sudah jelas bahwa Sabyan adalah kelompok musik gambus. Mengenai lagu atau syair yang dibawakan bisa beragam, bisa shalawat, bisa tentang percintaan, bisa tentang rindu. Kembali lagi ke soal awal lagu “Nawarti Ayyami”, bisa dilihat secara maksud dan isi lagu bercerita tentang seorang laki-laki yang jatuh cinta dengan seorang perempuan.

Sebenarnya tak perlu mahir Bahasa Arab untuk paham lagu ini, cukup berbekal kuota 1 gigabyte untuk melihat video klip asli Helmi Abdel Baqi, itu sudah cukup menjelaskan isi maksud lagu. Bagi orang awam nan fakir Bahasa Arab seperti saya, lirik lagu “Nawarti Ayyami” berada di level high experiance untuk memahami makna lagu karena dialeknya bercorak Mishri (Mesir). FYI aja, dalam dialek mesir huruf (ج) diucapkan “gha”, dan huruf (ق) diucap “a”. contohnya dalam lirik Qadar dengan huruf “qaf” dibaca Adar, dan lafadz Jama’ dikatakan Ghama’.

Di video lain Sabyan Gambus banyak melantunkan shalawat atau pujian kepada nabi, atau lagu-lagu yang mengingatkan seseorang kepada Allah, menambah keimanan dan ketakwaan, menambah semangat dalam beragama. Sebenarnya, dilihat dari cikal bakalnya, gambus di Indonesia lebih bernuansa Islam dan religi. Lihat saja gambus El-Surayya dari kota Medan pimpinan Ahmad Baqi, atau Nasida Ria dari Semarang.

Jadi gak perlu kaget kalau ada biduan yang menyanyikan lagu Arab tapi pakaiannya ketat dan tidak berhijab. Tinggal kita sebagai manusia yang bersyahwat untuk berkomentar secara jernih melihat isi atau lirik yang dilantunkan. Dan jangan salah kaprah juga menyebut semua lantunan berbahasa Arab adalah shalawat. Salah satu contohnya ya lagu ini sama lagu “Ya Nuril ‘Aini” dari Amr Diyab, jangan sampai diputar menggunakan toa masjid, mentang-mentang itu berbahasa Arab.

mengenai komentar Ukhti Shinta yang miris karena penyanyinya menyebut nama Allah sambil ngajak joget, sepertinya Ukhti ini juga perlu sesekali nonton streaming bola dari saluran yang berbahasa Arab.