3 Pesepakbola Bernomor Punggung 10 Yang Patut Kalian Ingat

565
Pesepakbola Bernomor Punggung 10
  1. Francesco Totti
    Gelar Pangeran Roma untuk Totti rasanya tidak berlebihan, karena memang loyalitas dan karir sepakbola profesionalnya  dihabiskan di klub sepakbola AS Roma. Kesetiaan Totti ini bukanlah tanpa godaan dan imin-iming sama sekali. Di umur 13 tahun Totti sudah ditawari menjadi skuad Muda AC. Milan, padahal di tahun 1989 masa kejayaan rating AC Milan sebagai klub sepakbola terhebat di dunia.
    Tawaran dari klub besar Eropa lain, seperti Madrid ditolak. Saya hanya dapat berucap, mas Totti itu tawaran kontrak manajemen Madrid lho, bukan nawarin cangcimen. Kenapa Totti dan keluarganya menolak tawaran Milan? Jawabannya adalah loyalitas dan kesetiaan. Mungkin di dalam tubuhnya sudah mengalir darah serigala, duh malah jadi wolverine.
  2. Pele
    Kenapa memilih Pele bukannya Maradonna? Pertama, aku gak suka Maradonna karena kasus “Tangan Tuhan”, tiap kali mendengarnya serasa iman menjadi tipis, Tuhan kok punya tangan. Kedua, karena Pele adalah pesepakbola satu-satunya yang pernah memenangi Piala Dunia selama 3 kali. Super kan? Iya lah Pele, coba kalo Maradonna. Menariknya lagi, selama karir sepakbolanya Pele belum pernah merumput di Dataran Eropa, pol mentok ya di Amerika setelah dia meninggalkan klub Santos Brazil.
  3. Tsubasa Ozora
    Bagi anak-anak 90-an, pasti tidak asing dengan nama Tsubasa.  Bahkan nama dan gelar kaptennya, sering dinyanyikan dan dipuji oleh orang seluruh penjuru kota >> ayo kawan semua kapten kita datang, seluruh penjuru kota, memuji kehebatannya<<. Hafal lirik lagu ini membuatku bangga, daripada hafal lagu mars partai, yang kalau sekali dua kali bolehlah kayak pengamen, lha kalau setiap 15 menit sekali nongol? Yang paling epik dari kapten Tsubasa adalah mencetak gol dengan “tendangan halilintar”. Kalau hanya tendangan sepeda  (bycicle kick) Ibrahimovic , atau tendangan pisang (banana kick) Roberto Carlos, itu hanya remahan biskuit Roma bagi Tsubasa.