Lika-liku Perjalanan Hidup Seorang Romahurmuziy

2501
Arsip pribadi sahabatromahurmuziy
“Jadi adik-adik sekalian, ada motivasi di setiap perjalanan hidup. Dan adik-adik harus bangun, tumbuhkan sendiri motivasinya apa. Setiap orang berbeda.”

 

Dalam memotivasi kalangan muda Jogja (01/05) kemarin, Romahurmuziy lebih memilih menceritakan perjuangan hidupnya sendiri. “Saya ingin lebih banyak bercerita diri saya supaya adik-adik lebih mudah menjangkaunya, daripada bercerita orang lain. Saya ingin memberikan cerita hidup saya untuk menjadikan motivasi adik-adik untuk maju,” ungkapnya.

“Adik-adik harus mencari motivasi untuk menjadi orang hebat. Harus menjadi yang terbaik. Harus menjadi yang paling bermanfaat,” lanjut ketua umum Partai Persatuan Pembangunan ini.

Lalu cerita perjuangan sebelum mencapai titik kesuksesan seperti sekarang ini mengalir deras di depan ratusan anak muda Jogja malam itu.

Berjualan Daster dan Kuli Panggul

“Saya berbisnis sudah sejak kuliah,” begitu laki-laki yang akrab disapa Gus Rommy ini memulai cerita perjuangannya. “Meskipun saya anak anggota DPR, saya keluar-masuk Pasar Baru dan Tanah Abang,” lanjutnya.

Suami dari Henny Widianti ini mengaku memulai bisnis semenjak kuliah dengan berjualan pakaian, seperti jilbab, kaos kaki, hingga daster perempuan. Heroik, barang-barang jualan yang akan dijualnya itu dipanggulnya sendiri saat harus keluar-masuk pasar.

“Saya panggul sendiri. Mulai dari jilbab, kaos kaki, daster, saya jualan itu,” tuturnya mengenang bagian perjuangan hidupnya.

“Untuk menekan biaya, waktu itu saya naik kereta barang. Supaya bayarnya ngirit, karena bawa berkoli-koli barang,” suasana sepi menyimak penuturan lelaki yang akrab disapa Gus Rommy ini.

Tiba-tiba suasana pecah dengan gelak tawa para anak muda saat Gus Rommy masuk pada bagian menceritakan satu gerbong dengan berbagi macam aneka hewan dan aneka bau aneh.

Modal Telah Terkumpul

Cerita perjuangan berbisnis saat S1 selesai. Masuk S2, bisnis Romahurmuziy pun naik kelas. Karena modal telah terkumpul dari hasil penjualan pakaian yang prosesnya amat heroik itu, kini beralih sebagai distributor kesehatan.

“Begitu masuk S2, karena modal semakin banyak terkumpul, saya naik kelas. Bisnisnya jadi distributor alat kesehatan. Saya ambil barang di Glodog, di perniagan, di jembatan lima Jakarta, saya jual ke Bandung, ke Jogja, ke Semarang, Purworejo, ke mana-mana,” ungkap putra K.H. Tolchah Mansoer ini.

Hari Raya di Tengah Hutan

Kehidupan rupanya tak selalu berjalan mulus. Meski modal terkumpul lebih banyak dari sebelumnya dan mulai merambah pada bisnis batu bara di Batu Licin Kalimantan Selatan, potongan hidup yang melankolis pun turut hadir menyertainya.

Waktu itu hujan turun terus menerus, membuat jalan tambang rusak di mana-mana. Lelaki yang memiliki semangat tinggi dalam berbisnis ini pun terpaksa tak dapat berkumpul di tengah hangatnya keluarga di hari besar umat Islam, Hari Raya ‘Idul Fitri.

“Baru di situ saya merenung, owalah le le golek duwet kok angele koyok ngene. Sampek gak bisa sungkem sama orangtua.”

“Akhirnya saya memutuskan saya harus berhenti bisnis batubara karena saya yakin ada jalan rizki yang lain, tidak harus di tengah hutan begini di saat lebaran,” kisahnya.

Semenjak itu, Romahurmuziy yang dikenal cerdas semenjak kecil mulai berbisnis properti dan kini banyak memiliki pabrik yang tersebar di mana-mana.

“Ada sekitar 2.200 karyawan saya hari ini. Dan itu masih jalan, sambil saya ngurusi partai,” tukasnya yang langsung disambut tepuk tangan para peserta.(nda)