Cara Kreatif Romahurmuziy Tumbuhkan Budaya Kritis Kalangan Muda

3308
Arsip pribadi sahabatromahurmuziy

Malam itu (01/05), ruangan Aula Pondok Pesantren Sunni Darussalam terdengar riuh. Jarum jam telah menunjuk ke angka 11.00 malam, namun suara santri dan kalangan anak muda Jogja yang malam itu hadir untuk bertemu sosok muda intelek, Romahurmuziy, bersahut-sahutan dalam gelombang semangat yang membara.

Antusiasme kalangan muda Jogja ini hadir karena sosok di depan yang piawai berkomunikasi dengan mereka. Dialah Romahurmuziy, sosok yang memang dikenal gaul dan kekinian. Tak pelak kalangan muda betah berlama-lama mendengarkan gagasan-gagasannya seputar anak muda, kehidupan, keislaman, kebangsaan, hingga isu internasional.

Nilai lebih yang ditawarkan Romahurmuziy adalah pembawaannya yang luwes dan gayanya yang komunikatif dengan segala kalangan. Lebih-lebih dengan anak muda yang jamaknya memiliki semangat membara, namun sekaligus butuh asupan inspiratif dan motivasi.

Dari kisah hidupnya (Romahurmuziy) yang penuh perjuangan dan optimisme, sekaligus bertaburan kisah jatuh-bangun, mampu menyihir kalangan muda yang bersiap menata masa depan masing-masing. Sampai masuk sesi terakhir, sesi diskusi dan tanya jawab, antusiasme kalangan muda semakin menjadi.

Mereka berlomba mengangkat tangan dan mengajukan diri sebagai person yang mampu menjawab pertanyaan-pertanyaan seorang Romahurmuziy. Pertanyaan-pertanyaan yang diajukan Romahurmuziy kepada kalangan Jogja sangat komprehensif. Mulai dari sirah Nabi, tokoh-tokoh Islam masa kini, hingga sejarah politik nasional.

Sampai pada sebuah pertanyaan sejarah PPP dan fusi partai misalnya, 3 anak muda berturut-turut antusias dan percaya diri maju ke depan, mencoba menjawab, meski ketiganya harus turun dari panggung dengan tertawa kecil karena kurang tepatnya jawaban yang mereka lontarkan

Sampai seorang perempuan muda berkerudung kuning, penjawab ke-4 dari pertanyaan yang sama, akhirnya lolos menjawab dengan benar. “Ada empat, yaitu Parmusi, Perti, Nu, sama PSII,” jawabnya tegas.

Tepuk tangan bergemuruh untuk kesekian kalinya saat perempuan muda itu menerima hadiah sangat menarik dari Romahurmuziy, sebagaimana yang diperoleh peserta sebelum-sebelumnya.

Seperti kurang puas, semua kalangan muda berteriak agar Romahurmuziy melontarkan satu pertanyaan lagi pada mereka. Romahurmuziy tertawa senang melihat antusias itu. Satu lagi pertanyaan dilontarkannya:

“Hari ini orang banyak menghukumi  dan mencaci saudara-saudaranya, berdasarkan penilaian atas motif atau niat. Padahal kita tidak pernah tahu apa niat seseorang  melakukan suatu peristiwa atau suatu kejadian . Karenanya dalam Islam kita diminta untuk menghukumi atas apa yang tampak. Apa yang tidak tampak adalah urusan Allah,” begitu opening Romahurmuziy sebelum masuk pada pertanyaan inti yang akan diajukannya.

“Dalam sejarah, ada Sahabat Nabi yang kemudian dimarahi oleh Rasulullah karena dia salah. Dianggap oleh Rasul salah, (karena) membunuh seorang kafir Quraisy yang kemudian dia mengucapkan dua kalimat syahadat ketika pedang itu akan menebas lehernya. Siapa nama kafir Quraisy itu?”

Pertanyaan itu kontan ditanggapi langsung oleh seorang perempuan muda. Ia menjawab dengan jelas, dan hadiah menarik di tangan Romahurmuziy kontan cepat beralih ke tangannya. Semua kembali bersorak. Namun malam belum mengizinkan Romahurmuziy selesai di situ. Ratusan anak muda Jogja ini menghambur ke depan. Hingga lewat tengah malam, Romahurmuziy dengan ramah melayani permintaan mereka untuk pengabadian gambar. (nda)