Antara Buku, Romahurmuziy, Tolchah Mansoer, dan Soekarno

937
Arsip pribadi sahabatromahurmuziy
“Karena aku melarat, aku tidak bisa ke mana-mana. Pergiku hanya ke dalam buku-buku. Dengan dan karena buku-buku itu aku bisa mengembara ke seluruh dunia, bahkan ke dunia silam.” –Surat Tolchah Mansoer mengutip kata-kata Soekarno.
Romahurmuziy melihat ayahnya sebagai sosok yang gemar membaca. Kecintaannya pada buku-buku bisa disaksikan dan dirasakan oleh anak-anaknya. Rupanya, kegemaran dan kecintaannya pada buku-buku dan tradisi membaca itu tertular kepada anak-anaknya.
Romahurmuziy mengisahkan bahwa segala jenis buku mulai dari yang ringan hingga paling berat disenangi oleh ayahnya ini. Masih lekat diingatannya, setiap pukul setengah sepuluh malam, abahnya ini pasti membaca buku komik bertema silat. Dan ini menjadi cikal-bakal Romahurmuziy kecil terpengaruh gila membaca.
“Di masa itu, mulai Gan KL, Can, Khu Lung, dan Kho Ping Hoo, semuanya kulalap. Mulai Pendekar Negeri Tayli sampai Pendekar Super Sakti. Kalau sudah membaca itu, rasanya langsung berkelana ke dunia lain,” begitu Romahurmuziy berkisah dalam tulisannya berjudul ‘Kisahku (3): Dari Kitab Kuning Sampai Kho Ping Hoo’.
Seperti yang tertulis dalam buku ‘KH. Moh. Tolchah Mansoer: Biografi Profesor NU yang Terlupakan’ bahwa kegemaran membaca Tolchah Mansoer ini terinspirasi dari Soekarno. Dalam sebuah surat pribadi tertanggal 29 Juni 1979 yang dikirimkan Tolchah Mansoer kepada Mahbub Djunaidi, terbubuhkan kalimat Soekarno yang dikutip oleh Tolchah Mansoer:
“Karena aku melarat, aku tidak bisa ke mana-mana. Pergiku hanya ke dalam buku-buku. Dengan dan karena buku-buku itu aku bisa mengembara ke seluruh dunia, bahkan ke dunia silam.”
Romahurmuziy, lewat tulisannya juga merekam kisah ayah dan kedekatannya denga buku:
“Begitu menghargainya ayahku pada buku dan ilmu, masih kuingat sampai hari ini pesan guyonnya: Orang yang bodoh adalah orang yang mau meminjamkan buku, tapi orang yang paling bodoh adalah orang yang meminjam buku dan mengembalikannya.”[] (nda)